Sinetron dan Orang tua.

Malam ini, ada sesuatu yg ingin aku bagi tentang sebuah agenda. Sebuah agenda yang sama seperti agenda malam-malam sebelumnya :
"Nonton sinetron di RCTI".
Mungkin sebagian mengartikan sangat "norak", tapi bagiku ini salah satu nikmat yang perlu disyukuri.
Kenapa di syukuri, karna aku bisa menikmati sinetron Indonesia yg jalan critanya bisa ketebak sama orang orang penting dalam hidupku, sama Ayah dan Ibuk.
Sinetron di RCTI jadi agenda rutin maraton tontonan ayah dan ibuk. Maraton dari CHSI sampai kita nikah yuk, dari jam 19.15-23.00 WIB.
Awalnya bete dan jengkel ngerti ayah ibuk nontonin sinetron Indonesia yg sama sekali gak mendidik, tapi lama lama aku sadar kalau sinetron ini salah satu hiburan mereka.
Anak ayah ibuk ada 3, sering aku sama mas ar main sendiri dan akhirnya pulang malem, galih adikku yg skrg kelas 2 smp lebih milih online, blajar atau nonton tv di lantai atas daripada harus nonton sinetron yg di tonton ayah ibuk.
Di usia mereka yg mulai menua, nonton sinetron mungkin jadi alternatif hiburan yang murah.
Sambil nonton sinetron, ayah ibuk bisa saling crita, duduk berdampingan berbagi tawa bahkan adu argumen tentang kisah fiksi itu.
Sederhana, sinetron memang jadi kebahagiaan sederhana bagi mereka.
Seiring berjalannya waktu, dengan kegiatan kuliah yg hampir gak ada, kegiatan komunitas yg mulai berkurang, waktu main yg gak sampai malem. Aku mulai ikut duduk diantara mereka, menyaksikan apa yg mereka saksikan.
Jalan cerita yg itu-itu aja, harta, cinta dan tahta jadi inti yang sama.
Hingga akhirnya ketika aku mulai terbiasa ada diantara mereka, aku sadar, bukan jalan cerita sinetron yg utama, tapi sebuah cinta ketika kita duduk bersama.
Aku memang tak mengikuti semua dari awal kisah seperti ayah ibuk, tapi aku bisa merasakan emosi ayah ibuk ketika tokoh antagonis mulai hadir dalam cerita.
Emosi yang sama, kita jadikan bahan perbincangan yang selalu diakhiri dengan pesan moral.
Pesan moral yang selalu hadir dalam sebuah candaan, pesan moral yang hadir dalam sindiran, pesan moral yang hadir dalam perumpaan.
Betapa agenda ini sangat kunikmati, duduk diantara ayah ibuk, berdebat dan berkomentar tentang sinetron, seolah kita sang sutradara.
Tertawa dan menangis atas emosi yang sama hingga berujung pada sebuah petuah.
Bahkan ketika suasana ini terasa hangat, tak jarang isi hati dan pikiranku aku curahkan pada mereka. Membiarkan ayah dan ibuk berkomentar sesukanya atas apa yang kurasa, merasakan kasih dan sayang mereka dengan cara mereka.
Rasa bosan dan jengkel yang dulu sering kurasa, perlahan mencair dan berganti syukur atas waktu dan kesempatan yang Allah berikan pada kami.
Terimakasih Allah, berkat sinetron aku sadar bahwa sinetron memang identik dengan orang tua yang penuh kasih dan cinta tanpa mengharap imbalan.

Malang, 27 Agustus 2014.
23.29

Komentar

Postingan Populer