1.5 jam untuk terus dan makin CINTA

1.5 jam adalah waktu yg membuatku makin mencintainya.
1.5 jam mendengar pengalaman hidupnya, mendengar langsung kisah jatuh bangunnya.
1.5 jam waktu yg ingin terus kunikmati tanpa henti dan terus kuulang.
1.5 jam menikmati siang sepulang solat jum'at di rumah berdua. 1.5 jam bersama dia cinta pertamaku, bersama Ayahku.
Awalnya cuma crita2 biasa, crita tentang Galih (adik kandungku, sekarang kelas 2 SMP) yang kemaren lusa kena tilang polisi karna berkendara tanpa kelengkapan. Sebenernya aku udah denger crita adik ketilang dari Ibuk, tapi hari ini aku denger lagi crita itu dari kacamata seorang Ayah. Kisahnya sama, cuma beda dari nasehat tersirat di dalamnya. Ayah tau adik salah, jadi ayah biarin aja Adik dinasehatin polisi sekaligus biar adik merasa jera. Disisi lain Ayah crita, ada rasa terenyuh dan gak tega di hati Ayah waktu liat adik nangis dinasehatin polisi.
Sampai akhirnya 1.5 jam berjalan tanpa terasa. Ayah crita jatuh bangunnya diturunin jabatan karna Ayah bertahan pada prinsip kejujuran. Kejadiannya ± 9 th lalu, 2 tahun 2 bln Ayah jalani hidup penuh sabar dan tawakal. Aku tau dan merasakan keadaan itu, hanya sekedar "tau" tanpa paham. Hari ini, siang ini. Dalam 1.5 jam Ayah critakan detail kejadiannya dengan tersenyum. Hingga akhirnya aku paham dan sadar :
Ayah berani ceritakan pahitnya hidup, mungkin karna Ayah rasa aku sudah cukup kuat mendengar kisahnya
Ayah bilang "sebaik-baiknya seorang teman, pasti ada sisi ingin bersaing"
Ayah tekankan "tak apa dikucilkan dalam perbedaan manusia, karna kita punya Allah yg lebih gawat pengucilannya drpd manusia"
Aku sadar aku semakin jatuh cinta mendengar kisah dan prinsip hidupnya
Aku sadar dan bersyukur punya Ayah seperti Ayah yg rela berjuang bahkan berani mati demi keluarga
Aku tak punya ribuan kata yg bisa kurangkai indah untuk menggambarkan isi hatiku saat ini, sedih, bangga, haru, salut semuanya untuk Ayah.
1.5 jam ini harus berakhir ketika Ayah tanya : " udah solat mbak?" dan aku cuma bisa gelengkan kepala. Aku takut ketika aku keluarkan suara, air mata ini akan jatuh dengan sendirinya. Sungguh rasanya tak mau berakhir menikmati waktu berdua bersamanya, tapi ada rasa malu andai Ayah tau aku menangis, aku malu kalau Ayah tau aku tak sekuat apa yg Ayah bayangkan. Jadilah aku pergi solat dan mengangis sepuasnya pada Illahi Rabbi, memanjatkan doa terbaik yg aku punya agar Allah senantiasa lindungi Ayah dan Ibuk. Memohon agar Allah beri umur panjang untuk kedua Orang Tuaku agar aku mampu bahagiakan mereka.
Malang, 28 November 2014. 14.42.
Catatan ini hanya pengingat diri tentang Ayah yg sengaja aku tulis dan mungkin suatu hari nanti aku jadikan obat andai diri ini "ngambek" lagi sama Ayah.

Komentar

Postingan Populer