Belajar "menyamakan"

Sebelumnya aku pribadi mohon maaf bila tulisan ini terlihat menggurui atau sok tau. Sejujurnya tulisan ini merupakan hasil perundingan dua otak manusia yang sedang belajar menyamakan bahasa hingga menjadi sebuah komunikasi yang dapat diterima dengan baik oleh keduanya.
Dua manusia ini menyadari, proses belajar menyamakan bahasa tidaklah mudah. Bahkan terkadang rasanya sangat sakit ketika keduanya sadar bahwa maksut yang tersampaikan tidaklah sama dan tidak diterima dengan baik oleh lawan bicaranya.

Sebagai gambaran, aku mencoba mencontohkan suatu kejadian:

Dua orang sedang mengendarai mobil yang tiba2 mogok dan berhenti di tengah jalan. Dalam kondisi seperti ini keduanya sepakat, si A sebagai pemegang kendali setir dan si B sebagai pendorong mobil. Tujuannya sama, sama-sama ingin mobil ini menepi agar tak mengganggu laju mobil lainnya. Si B mendorong mobil sekuat tenaga agar mobil bergerak perlahan sehingga mudah ditepikan, sedangkan si A membelokan tuas ban dengan setir yang terasa berat karna diputar tanpa bantuan mesin yang menyala. Keduanya sama2 berusaha agar mobil ini bergerak. Hingga perlahan tapi pasti pergerakan mobil mulai terlihat dan terasa. 
Tiba-tiba si A menyemangati karna proses penepian hampir berhasil  : "hei si B, kamu harus kuat !!!"
Seketika itu si B berhenti dan merasa : apakah memang dari tadi mobil ini tak bergerak? Padahal energi mendorong sudah hampir habis. Apakah aku dari tadi lemah hingga masih diminta untuk kuat? Padahal seluruh tenaga sudah dikerahkan hingga bercucuran keringat.
Si A punya maksut agar si B lebih semangat , sedangkan si B malah merasa usahanya tak ada artinya.

Sesederhana itu, sebuah kalimat menjadi beda arti hanya karna satu kata. Hanya karna kata "harus".

Menurut pendapat kami sebagai orang awam yg sedang belajar menyamakan bahasa. Akan beda cerita bila kata "harus" dari si A diganti dengan kata lain, kami berfikir kata "harus" mungkin bisa diganti dengan kata "pasti".
Kata harus lebih menekankan pada proses/usaha yang harus ditempuh untuk mendapatkan sesuatu. Sedangkan kata "pasti" lebih menunjukan pada sebuah keoptimisan akan sebuah kejadian.
Kata "harus" bisa diucapkan di awal proses sebelum pekerjaan dilakukan, sedangkan kata "pasti" bisa diucapkan di awal bahkan di tengah proses sebagai kalimat penekanakan akan keoptimisan atau dengan kata lain sebagai kalimat penyemangat.

Kami umpamakan lagi dengan contoh kata ini :
A: "kamu harus kaya"
B: "kamu pasti kaya"
Mana yg lebih enak di dengar ketika proses sudah mencapai 90%?
Mana yg lebih menyemangati ketika proses kita sedang berlangsung?

Sekedar ini, sebuah kata yang kami bahas dan kami sepakati semalam.  Kata-kata yang sedang kami upayakan agar artinya menjadi sama dan bisa diterima otak dan hati kami.
Sekali lagi ini adalah proses penyamaan bahasa yang kami buat dan kami sepakati dari sebuah diskusi, dan tidak menutup kemungkinan penyamaan ini akan berbeda dalam bahasa kalian.
Ini hanya usaha kami sekedar mengingatkan bahwa manusia harus terus belajar sampai tiba waktunya berbaring di liang lahat.
Sungguh Allah dzat sempurna yang menciptakan banyak kata dan memberi kita otak untuk berfikir dan belajar memilah mana-mana yang harus digunakan.
Semoga tulisan ini kelak berguna ketika aku, kamu bahkan mungkin anda sekalian mulai lalai untuk terus belajar. Bahkan hanya untuk belajar maksut sebuah kata sederhana seperti ini.


27 Januari 2015,
Sembari menunggu Pakde yang sedang di opname di RS. Saiful Anwar. 
Penuh hormat dari saya yang sedang belajar,
Indri Maharani.

Komentar

Postingan Populer